Bupati Bener Meriah Dukung Penuh Pembangunan Gedung Baru RRI Rimba Raya - Nota Perhitungan Anggaran 2018 Disetujui Seluruh Fraksi DPRK Bener Meriah - PNS Bener Meriah Dilarang Pakai LPG 3 Kg - Plt. Sekda Bener Meriah, Sambut Kedatangan SCAE dan SCAI - Lokakarya Evaluasi Pelaksanaan Peraturan Bupati Dan Penyusunan Model Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak Serta Gizi - Pembangunan Jalan Samarkilang Lanjut - Bener Meriah Juara Stand PIPMG 2019 Terbaik se-Aceh - PIPMG Tahun 2019 Bener Meriah Berakhir dan Ditutup Plt. Gubernur Aceh - Rapat Koordinasi (Rakor) DPMG se-Aceh Digelar Di Bener Meriah - Diskominfo Aceh dan Bener Meriah Mengadakan Kegiatan Jaring Opini - Tim TP-PKK Aceh dan Bener Meriah Tinjau Pengobatan Gratis di Kecamatan Mesidah - Ketua TP-PKK Kabupaten Bener Meriah Buka Lomba Desain Fashion Berbasis Etnic Aceh - Peletakan Batu Pertama Pasar Rakyat di Tingkem, Bener Meriah - Alat Penarik Air Secara Manual Buatan Joko Dipamerkan di PIPMG Bener Meriah - Salmah, Si Pengembang Alat Recycle Sampah Jadi BBM dari Bener Meriah -

Perangkat Radio Rimba Raya Saat Ini Ada Di Museum TNI AD Yogyakarta, Radio Penyelamat Indonesia

01-04-2019 09:35:52

JAKARTA - Dimanakah perangkat Radio Rimba Raya  disimpan? Sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya, Ikmal Gopi, mengatakan, perangkat radio bersejarah itu saat ini berada di Musium TNI Angkatan Darat (AD) Yogyakarta. Teregistrasi dengan No 60.607.318.

Ikmal Gopi suatu ketika datang ke museum tersebut untuk kepentingan pembuatan film dokumenter Radio Rimba Raya yang ia mulai sejak 2002 dan baru bisa diwujudkan pada 2006. Di perangkat tua Radio Rimba Raya itu tertera sebuah keterangan pendek, "Pemancar hasil selundupan dari Malaya digunakan oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh 1948," kata Ikmal Gopi, pria kelahiran Takengin dan alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) 2005 jurusan penyutradaraan. Radio Rimba Raya pernah menjadi penyelamat Indonesia, dan satu-satunya radio yang menyuarakan keberadaan Indonesia, setelah RRI Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948.

Radio Rimba Raya tetap berperan sampai muncul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat oleh pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konferensi Meja Bundar di Den Haaq. Siaran Radio Rimba Raya dipancarkan dari belantara Desa Rimba Raya, Aceh Tengah (sekarang Bener Meriah -red). Dari sanalah disuarakan pesan-pesan perjuangan dan dikumandangkan eksistensi Republik Indonesia. “Republik Indonesia masih ada. Pemerintah Republik masih ada. Wilayah Republik masih ada, dan di sini adalah Aceh,” demikian antara lain bunyi siaran Radio Rimba Raya, ketika itu.

Berita-berita itu ditangkap oleh radio ALL IIndia Radio yang kemudian menyiarkannya kembali ke penjuru dunia. Radio ini juga bisa ditangkap dengan jelas di berbagai kawasan di semenanjung Melayu, Singapura, Saigon, Manila, New Delhi, sampai Australia, dan beberapa tempat di Eropa. Pemancar Radio Rimba Raya berkekuatan 1 kilowatt bekerja pada frequensi 19,25 dan 61 Mhz.

Dalam siarannya radio ini menggunakan signal calling ‘Suara Radio Republik Indonesia’ dan ‘Suara Merdeka’. Siaran disampaikan dalam bahasa Indonesia, Inggris, China, Urdhu, Arab, Belanda, dan bahasa Aceh. Para penyiarnya saat itu adalah W Schutz, Raden Sarsono, Abdullah Arief, M Syah Asyik, Syarifuddin, Ramli Melayu, Syarifuddin Taib, Syamsudin Rauf dan Agus Sam.

Selain berisi siaran berita dan pengumuman, Radio Rimba Raya juga menghidangkan lagu-lagu rakyat dan lagu perjuangan yang membakar semangat perlawanan melawan penjajahan.(*)

 

Sumber : aceh.tribunnews.com