Pemkab Bener Meriah Jalin Kerjasama dengan UGM Yogyakarta - Bupati Sarkawi Antar Tugas Camat Syiah Utama - Pekan Inovasi Kampung Se-Aceh akan Digelar di Bener Meriah - Masyarakat dan Pemkab Bener Meriah Bersama Pawai Takbiran dengan Mobil Hias - Meriahkan Pawai Takbiran, Pemkab Bener Meriah Gelar Lomba Dekorasi Mobil Hias - Pemkab Bener Meriah Peringati Hari Lahir Pancasila - Bupati Bener Meriah Buka Pemilihan Calon Anggota MPU Tingkat Kabupaten - Rayakan Kelulusan Siswa Siswi SMA Negeri 1 Bandar Berbagi Takjil - Camat Bandar Serahkan Donasi Ratusan Juta untuk Palestina - Komunitas TBP Menyerahkan Donasi Untuk Palestina - Baitul Mal Bener Meriah Salurkan Bantuan Dana Pada 1500 Fakir Dan Miskin - Bupati dan Disperindag Bener Meriah Sidak Sejumlah Swalayan dan Toko Grosir - Harga Kopi Turun, Pemkab Bener Meriah Gelar Rapat Koordinasi - Peduli Palestina, Pemuda Karang Taruna Wih Pesam Bener Meriah Serahkan Bantuan - Tutup Kegiatan Pesantren Ramadhan, SDIT Asy-Syifa Bener Meriah Bagi-Bagi Takjil -

Perangkat Radio Rimba Raya Pernah Dibawa ke Cot Gue Sebelum Akhirnya Dikirim ke Gayo

01-04-2019 09:12:41

JAKARTA - Peralatan pemancar Radio Rimba Raya milik Divisi X pimpinan Kolonel Hoesin Yoesoef, pernah dibawa ke Bireuen. Tapi selang beberapa bulan, pemancar tersebut dipindahkan ke Koeta Radja (Banda Aceh). Pemancarnya dipasang di kawasan pegunungan sebelah selatan Banda Aceh, yakni kawasan Cot Gue. Studio siarannya berada di sebuah rumah peninggalan Belanda Peunayong. Sayangnya, pemancar radio di Cot Gue sama sekali tidak pernah bisa digunakan. Karena pada saat yang sama terjadi Agresi Militer Belanda II, pada 19 Desember 1948.

Dalam situasi yang tidak mendukung itu, Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, Tgk Mohd Daud Beureueh memerintahkan agar alat pemancar dipindahkan ke tempat lain. Maka disepakatilah Aceh Tengah sebagai daerah tujuan. Daerah ini dianggap lebih aman karena wilayahnya bergunung dan berhutan-hutan. Peralatan itupun ‘diungsikan’ ke Aceh Tengah pada 20 Desember 1948, dalam suatu pengawalan ketat dan rahasia. Daerah yang hendak dituju adalah Burni Bies.

Perjalanan menuju Tanah Gayo dilukiskan begitu dramatis. Berkali-kali rombongan terpaksa menyingkir dari jalan raya untuk bersembunyi dari kejaran Belanda yang mengintai dengan pesawat udara.

Karena resiko perjalanan sangat tinggi, akhirnya rencana yang semula menuju Burni Bies dialihkan ke tempat lain, yakni Rime Raya (Rimba Raya). Di tempat inilah akhirnya pemancar didirikan.  Namun, waktu itu muncul kesulitan, tak ada mesin pembangkit listrik. Ny Ummi Salamah, istri Kolonel Hoesein Yoesoef pun berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Tapi tak berhasil.

Mesin pembangkit listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain. Kabel tak cukup. Dicari lagi ke Lampahan dan Bireuen. Ditemukan. Beres.

Sender (pengirim gelombang) radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi, sehingga sukar dideteksi musuh. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio.

Kolonel Husein Yoesoef sendiri kemudian mendirikan rumah di areal pertanian Tentara Pembangunan di Rime (Rimba) Raya. Daerah itu sebelumnya bernama Desa Tanoh Ilang.  Salah satu kamarnya dijadikan studio penyiaran yang dipimpin sendiri oleh Husein Yoesoef. Dari ruang berdinding kayu itulah suara Radio Rimba Raya  dipancarluaskan dan akhirnya bisa ditangkap oleh All India Radio, yang menyiarkannya kembali ke segenap penjuru dunia. Rekaman siaran itu saat ini ada di Arsip Nasional India. Kementerian Luar Negeri diharapkan menyusuri keberadaan dokumen bersejarah itu dan membawa kembali ke Indonesia. Siapa nyana, dari pucuk gunung Tanah Gayo, dari pedalaman hutan belantara, Indonesia diselamatkan dengan meneriakkan "Indonesia masih ada....Indonesia masih ada....".(*)


Sumber : aceh.tribunnews.com

 


 
 
 
 
Facebook Fans Page