Pemkab Bener Meriah Jalin Kerjasama dengan UGM Yogyakarta - Bupati Sarkawi Antar Tugas Camat Syiah Utama - Pekan Inovasi Kampung Se-Aceh akan Digelar di Bener Meriah - Masyarakat dan Pemkab Bener Meriah Bersama Pawai Takbiran dengan Mobil Hias - Meriahkan Pawai Takbiran, Pemkab Bener Meriah Gelar Lomba Dekorasi Mobil Hias - Pemkab Bener Meriah Peringati Hari Lahir Pancasila - Bupati Bener Meriah Buka Pemilihan Calon Anggota MPU Tingkat Kabupaten - Rayakan Kelulusan Siswa Siswi SMA Negeri 1 Bandar Berbagi Takjil - Camat Bandar Serahkan Donasi Ratusan Juta untuk Palestina - Komunitas TBP Menyerahkan Donasi Untuk Palestina - Baitul Mal Bener Meriah Salurkan Bantuan Dana Pada 1500 Fakir Dan Miskin - Bupati dan Disperindag Bener Meriah Sidak Sejumlah Swalayan dan Toko Grosir - Harga Kopi Turun, Pemkab Bener Meriah Gelar Rapat Koordinasi - Peduli Palestina, Pemuda Karang Taruna Wih Pesam Bener Meriah Serahkan Bantuan - Tutup Kegiatan Pesantren Ramadhan, SDIT Asy-Syifa Bener Meriah Bagi-Bagi Takjil -

Begini Kisah Pemancar Radio Rimba Raya Yang Diselundupkan Dari Malaya

01-04-2019 09:21:43

JAKARTA - Banyak cerita yang mengiringi keberadaan Radio Rimba Raya Adalah tentara Divisi Gajah I yang memesan peralatan pemancar Radio Rimba Raya, dari Malaya dengan cara diselundupkan. Buku kecil “Peran Radio Rimba Raya” diterbitkan Kanwil Depdikbud Aceh, 1990, menuliskan, pemancar tersebut, diselundupkan oleh John Lie, seorang yang terkenal “raja penyelundup” Asia Tenggara. Peristiwa penyelundupan ini terjadi menjelang Agresi Militer Belanda I bulan Juli 1947.

Disebutkan, John Lie menggunakan dua buah speedboat, yang satu berisi bahan makanan dan kelontong, yang satunya lagi berisi alat pemancar radio. Ketika berpapasan dengan patroli laut Belanda, speedboat yang berisi bahan makanan dan kelontong melaju dengan kencang untuk memberi kesan mencurigakan. Patroli Belanda terpancing lalu mengejar speedboat tersebut dan berhasil dilumpuhkan.

Sedangkan speedboat yang berisi alat pemancar dengan “santai” melaju menuju pantai Sumatera dan mendarat di Sungai Yu, pedalaman Aceh Timur. Dari sini, peralatan diangkut ke Bireuen dan seterusnya digunakan oleh Divisi X untuk alat perjuangan. Pada awalnya, pemancar tersebut dipasang di Krueng Simpo, lebih kurang 20 Km dari Bireuen arah ke Takengon.

Studionya berada di salah satu kamar rumah kediaman Komandan Divisi X, Kolonel Husein Yoesoef. Tapi, keterangan lain menyebutkan, orang yang membeli peralatan itu adalah Nip Xarim, yang pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, berkedudukan di Pangakalan Berandan. Gubernur Militer waktu itu dijabat Tgk M Daud Beureueh.

Nip Xarim membeli peralatan radio itu bersama Dr Sofyan, justru sebelum Agresi Militer I 1947 dan disimpan di Pangkalan Brandan. Peralatan itu dibeli di Malaya. Sejarawan UGM, Mukhtar Ibrahim membenarkan hal ini.
 Keterangan serupa ditulis dalam buku “Peranan Radio di Masa Kemerdekaan di Sumatera Utara,” ditulis Drs Muhammad TWH. Anggota Divisi X, Syarifuddin Thaib yang juga Wakil Ketua/Ajudan Komandan Divisi X Kononel M Hoesein Yoesoef, dan John Ekel, serta anggota Divisi X membenarkan hal ini. Tapi Ali Hasjmy dan TA Talsya menyebut, John Lie lah yang membeli peralatan tersebut.

Sementara, Ikmal Gopi, sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya yang meneliti riwayat John Lie, seorang keturunan Cina – Manado yang menjabat Kepala Syahbandar Cilacap, menyebutkan bahwa John Lie baru berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947, saat meletus Agresi Militer I. Baru pada bulan September 1947, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan dan kemudian Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.(*)

 

Sumber : aceh.tribunnews.com
 

 

 


 
 
 
 
Facebook Fans Page