Tutup Kegiatan Pesantren Ramadhan, SDIT Asy-Syifa Bener Meriah Bagi-Bagi Takjil - Pada Minggu Ketiga Ramadhan, Pemkab Bener Meriah Santuni 2100 Anak Yatim Piatu - Produktif Meningkatkan Panen, Kelompok Tani GG TANI Bale Purnama, Dapat Bantuan Becak Barang - Calon Anggota MPU Bener Meriah Dites Kemampuan Baca dan Paham Kitab Kuning - SDIT Asy- Syifa Bener Meriah Gelar Pesantren Ramadhan - SMA Negeri 1 Permata dan MAN 1 Bener Meriah Akan Ikut Lomba Sekolah Adiwiyata Tingkat Aceh - Terpilih Sebagai Kampung Terbaik, Kampung Sumber Jaya Wakili Bener Meriah ke Tingkat Provinsi Aceh - Pemkab Bener Meriah Safari Ramadhan Tiap Masjid Kecamatan - Mengapa Faul LIDA 2019 Diberi Umrah Gratis Oleh Pemkab Bener Meriah? - Camat Bandar Turun Ke Jalan Untuk Galang Dana Bantu Palestina - Pelajar Bener Meriah Dihimbau Jangan Rayakan Kelulusan Dengan Aksi Coret-Coret dan Konvoi - Dinas Pendidikan Kabupaten Bener Meriah Bakal Gelar Pasantren Kilat - Bupati Bener Meriah Nobatkan Faul Sebagai Duta Budaya - Wakil Dubes Australia Tatap Muka dengan Kampung Binaan Kompak di Bener Meriah - Wakil Dubes Australia Kunjungi Kabupaten Bener Meriah -

Begini Kisah Pemancar Radio Rimba Raya Yang Diselundupkan Dari Malaya

01-04-2019 09:21:43

JAKARTA - Banyak cerita yang mengiringi keberadaan Radio Rimba Raya Adalah tentara Divisi Gajah I yang memesan peralatan pemancar Radio Rimba Raya, dari Malaya dengan cara diselundupkan. Buku kecil “Peran Radio Rimba Raya” diterbitkan Kanwil Depdikbud Aceh, 1990, menuliskan, pemancar tersebut, diselundupkan oleh John Lie, seorang yang terkenal “raja penyelundup” Asia Tenggara. Peristiwa penyelundupan ini terjadi menjelang Agresi Militer Belanda I bulan Juli 1947.

Disebutkan, John Lie menggunakan dua buah speedboat, yang satu berisi bahan makanan dan kelontong, yang satunya lagi berisi alat pemancar radio. Ketika berpapasan dengan patroli laut Belanda, speedboat yang berisi bahan makanan dan kelontong melaju dengan kencang untuk memberi kesan mencurigakan. Patroli Belanda terpancing lalu mengejar speedboat tersebut dan berhasil dilumpuhkan.

Sedangkan speedboat yang berisi alat pemancar dengan “santai” melaju menuju pantai Sumatera dan mendarat di Sungai Yu, pedalaman Aceh Timur. Dari sini, peralatan diangkut ke Bireuen dan seterusnya digunakan oleh Divisi X untuk alat perjuangan. Pada awalnya, pemancar tersebut dipasang di Krueng Simpo, lebih kurang 20 Km dari Bireuen arah ke Takengon.

Studionya berada di salah satu kamar rumah kediaman Komandan Divisi X, Kolonel Husein Yoesoef. Tapi, keterangan lain menyebutkan, orang yang membeli peralatan itu adalah Nip Xarim, yang pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, berkedudukan di Pangakalan Berandan. Gubernur Militer waktu itu dijabat Tgk M Daud Beureueh.

Nip Xarim membeli peralatan radio itu bersama Dr Sofyan, justru sebelum Agresi Militer I 1947 dan disimpan di Pangkalan Brandan. Peralatan itu dibeli di Malaya. Sejarawan UGM, Mukhtar Ibrahim membenarkan hal ini.
 Keterangan serupa ditulis dalam buku “Peranan Radio di Masa Kemerdekaan di Sumatera Utara,” ditulis Drs Muhammad TWH. Anggota Divisi X, Syarifuddin Thaib yang juga Wakil Ketua/Ajudan Komandan Divisi X Kononel M Hoesein Yoesoef, dan John Ekel, serta anggota Divisi X membenarkan hal ini. Tapi Ali Hasjmy dan TA Talsya menyebut, John Lie lah yang membeli peralatan tersebut.

Sementara, Ikmal Gopi, sutradara film dokumenter Radio Rimba Raya yang meneliti riwayat John Lie, seorang keturunan Cina – Manado yang menjabat Kepala Syahbandar Cilacap, menyebutkan bahwa John Lie baru berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947, saat meletus Agresi Militer I. Baru pada bulan September 1947, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan dan kemudian Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.(*)

 

Sumber : aceh.tribunnews.com
 

 

 


 
 
 
 
Facebook Fans Page