Bupati Bener Meriah Buka Secara Resmi Festival Guel Gamifest 2019 - TP-PKK Kecamatan Dihimbau Berperan Aktif Dampingi Program-Program Pemerintah - 21 Sanggar Se-Aceh Ikut Festival Tari Guel di Bener Meriah - Konflik Gajah Dengan Manusia Tak Kunjung Selesai, Bupati Minta BKSDA Cari Solusi - Kesbangpol Aceh Gelar Forum Dialog Terakit Perkembangan Politik di Bener Meriah - BPBD Bener Meriah Ikuti Jambore Penanggulangan Bencana - Pemkab Dan Kejari Bener Meriah Jalin Kerjasama Bantuan Hukum Perdata dan TUN - Syech Muhammad Nasir Pimpin Zikir Akbar Peringati Maulid Nabi Muhamad - Ini Nama-Nama Juara Lomba Menulis Puisi Bahasa Gayo Tingkat Pelajar SMP Dan SMA - Pemkab Bener Meriah Gelar Zikir Akbar Peringati Maulid Nabi - LK Ara: Manfaatkan Open Stage Sebagai Wadah Mengembangkan Bakat Seni - Darwinsah Terpilih Secara Aklamasi Ketum KONI Bener Meriah - KONI Bener Meriah Laksanakan Musorkablub Pemilihan Ketua Umum Priode 2019-2023 - Puluhan Pelajar di Bener Meriah Ikuti Lomba Menulis Puisi Bahasa Gayo - Gajah Liar Kembali Rusak Rumah Warga di Pintu Rime Gayo -

Bupati Bener Meriah Buka Secara Resmi Festival Guel Gamifest 2019

23-11-2019 11:02:57


Redelong- Bupati Bener Meriah Tgk. H. Sarkawi membuka Festival Guel di Lapangan Umah Pitu Ruang, Kampung Bale Atu, Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah, Jum'at malam, (22/11/2019). Acara yang dibuka malam hari ini merupakan sebagian dari rangkaian Gayo Alas Mountain Internasional Festival (Gamifest) 2019.

Gamifes dibuka pada 8 Agustus lalu di Kabupaten Gayo Lues dan secara resmi ditutup di Kabupaten Bener Meriah yang disemarakkan dengan ragam kegiatan dan atraksi kopi.

Tahun kemarin, Gamifest dibuka di Aceh Tengah dan  ditutup di Bener Meriah. Tahun ini dibuka di Gayo Lues dan juga  ditutup di Bener Meriah. Insya Allah tahun 2020 akan dibuka di Bener Meriah dan akan ditutup di kabupaten Gayo Lues.

Gamifest merupakan kegiatan yang dikoordinir oleh Kemenko PMK bersama Pemerintah Aceh untuk kabupaten-kabupaten yang ada di Gayo yang mencakup 3 kabupaten ini.

Bupati Bener Meriah itu menambahkan, Gamifest selama 3 tahun ini akan digilir. "Mudah-mudahan tahun ini akan berjalan  dengan sukses sampai dengan selesai nantinya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif termasuk di bidang pariwisata di kawasan tengah Aceh.

"Konsep dasarnya Gamifest oleh Komenko PMK untuk mengenalkan ekonomi kreatif, untuk mengerakkan pariwisata di Dataran Tinggi Gayo (DTG)", ujar Sarkawi.

Lanjut Sarkawi, kawasan Gayo harus hidup secara bersamaan, tumbuh secara bersamaan diperkenalkan sekaligus keluar agar kawasan ini bisa berkembang seperti kawasan-kawasan strategis pariwisata nasional lainnya yang tumbuh di Indonesia.

"Kita berharap, mudah-mudahan ini bisa berjalan dengan baik dan akan mendorong masyarakat untuk mempunyai kreativitas-kreativitas tingkat ekonomi dan pariwisata," harap Bupati.

Sementara itu, mewakili Kepala Dinas Pariwisata Aceh, Suburhan SH, Kepala Bidang Bahasa dan Seni dalam sambutannya mengatakan, Indonesia pada umumnya dan Aceh khususnya  kaya akan kebudayaan dan kesenian.

"Dewasa ini budaya barat berkembang begitu cepat di semua lini kehidupan kita, sehingga budaya daerah menjadi dilupakan. Globalisasi memaksa dunia untuk menjadi satu warna, kalau saja kita tidak mengantisipasi dengan baik budaya lokal kita akan hilang. Karena di anggap kuno dan ketinggalan zaman," kata Suburhan.

Padahal dari segi artistik dan sejarah budaya kita sangatlah menarik. Maka itu kewajipan kita semua untuk menjaga dan melestarikannya.

"Aceh termasuk salah satu wilayah yang memiliki seni budaya sangat kaya. Salah satunya tari guel yang begitu kaya dengan seni gerak dan gaya. Tarian ini sangat berbeda dengan tarian tradisional lain Aceh lainnya karena ada unsur magis di dalamnya," sebut Suburhan.

Tari guel memiliki gerakan unik dan penuh makna sehingga tak jarang membuat penonton seakan terhipnotis dan terbawa suasana saat menyaksikannya. Tari guel merupakan tradisi yang sangat terkenal dari tanah Gayo.

Konon kabarnya tari guel partama sekali dimainkan oleh Sengeda, putra Raja Linge ke-XIII. Cerita itu berawal dari mimpi Sengeda bertemu dengan saudaranya yang telah wafat yaitu  Bener Meria. Di dalam mimpi itu Bener Meria memberikan petunjuk agar Sengeda memberikan Gajah Putih kepada Sultan Aceh.

Untuk mendapatkan Gajah Putih, Sengeda dan beberapa penduduk melakukan do'a dan teriakan di tepi danau dekat makam Bener Meria. Prosesi yang dilakukan sesuai petunjuk yang didapatkannya dari mimpi sambil menyanyikan lagu yang sangat sedih. Sengeda menari mengikuti irama musik gerakan seperti burung yang terbang mencari sesuatu. Tiba-tiba seekor gajah putih hadir di tengah prosesi tersebut. Sengeda pun mendekati dan menjinakkannya.

Selanjutnya gajah putih itu diserahkan kepada Sultan. Tarian yang dimainkan Sengeda itu kemudian disebut tari guel dalam perkembangannya. Tarian ini kerap dimainkan dalam prosesi adat, di mana setiap gerakannya mengandung pesan dan nilai-nilai filosofis sampai sekarang sangat disukai masyarakat Tanah Gayo.

"Tari guel mungkin tidak sepopuler tari lainnya seperti, tari Saman atau Ratoh Jaro. Namun, tari guel sangat indah dan wajib bagi kita untuk melestarikannya," kata Suburhan.

Pemerintah Aceh akan terus berusaha untuk melestarikan seni budaya ini. Maka itu Dinas Pariwisata dan dinas Kepariwisataannya Aceh bersama Pemerintahan Kabupaten Bener Meriah secara periodik menyelenggarakan perlombaan Festival Tari Guel yang diikuti seluruh masyarakat Aceh pengemar tari guel, papar Kabid Bahasa dan Seni Dispar Aceh.*(gn/fa)