Selamat Datang di Halaman SID

Informasi Daerah
Alamat Desa
Gele Semayang
Latitude
Longitude
Email Desa
gelesemayang@yahoo.com
Luas Desa
160 H
Sejarah Kampung
     Kampung Gele Semayang terletak di daerah pedalaman dikelilingi dengan perkebunan kopi dan areal persawahan yang tidak begitu luas. Mayoritas penduduk kampung Gele Semayang adalah petani dan hanya sebagian kecil yang bersawah. Tepatnya pada tahun 2003 yang lalu Bapak Bupati Aceh Tengah menyampaikan informasi kepada setiap kampung yang sudah layak dan pantas untuk dapat dimekarkan. Pada saat itu masyarakat bermusyawarah dengan seluruh aparatur kampung maka diputuskan nama kampung tersebut adalah Gele Semayang hal ini dilakukan berdasarkan musyawarah mufakat seluruh masyarakat. Adapun batas wilayah Gele Semayang adalah sebagai berikut: Sebelah barat berbatasan dengan jalan besar atau kampung Suku Wih Ilang. Sebelah Timur berbatasan dengan Alur Hakim Wih Ilang atau kampung Gele Semayang. Sebelah selatan berbatasan dengan Alur Gele Semayang. Sebelah utara berbatasan dengan kampung Sungai Dua.             Luas kampung Gele Semayang ± 160 HA yang terdiri dari tanah adat dan tanah konsisi. Penduduk Gele Semayang mayoritas bersuku Gayo menganut adat istiadat yang sangat kuat walaupun dari segi pemerintahan terpisah dengan kampung Suku Wih Ilang, namun adat tidak membenarkan menikah antara masyarakat kampung Gele Semayang dengan masyarakat kampung Suku Wih Ilang. Ini merupakan kesepakatan sejak dahulu kala. Kampung Gele Semayang berjumlah 66 KK dengan jumlah penduduk ± 377 jiwa. Kampung Gele Semayang memanjang dari utara ke selatan yang di penuhi dengan tanaman kopi. Pada saat itu ditunjuklah H. M. Hasan sebagai penanggung jawab kepala kampung Gele Semayang. Kemudian pada tahun 2007 maka dipilihlah kepala kampung yang baru yaitu Bapak Naira.HS sebagai kepala kampung Gele Semayang. Setelah itu kampung Gele Semayang dibagi menjadi 3 dusun yaitu dusun Berkat, dusun Kalasio dan dusun Inpres. Gele semayang dinyatakan sebagai salah satu kampung depenitif dalam wilayah Kemukiman Gajah Mungkur Reje Tiang, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah. Pada tahun 2007 sampai dengan pertengahan tahun 2009 Kampung Gele Semayang dan Kampung Suku Wih Ilang berada dibawah wilayah pemerintahan Mukim Gajah Mungkur Tiang yang pada saat itu wilayah kecamatan bandar terbagi dalam tiga wilayah pemerintahan Mukim, yakni Kemukiman Janarata, Kemukiman Kute Teras, dan Kemukiman Bener Kelipah. Pada pertengahan tahun 2009 tiga wilayah Kemukiman ini dimekarkan menjadi tujuh wilayah Kemukiman diantaranya Kemukiman Janarata, Kemukiman Kute Teras, Kemukiman Bener Kelipah, Kemukiman Bener Selan, Kemukiman Pemango Kute Derma, Kemukiman Gajah Mungkur Reje Tiang, dan Kemukiman Tensaran Peteri Pintu. Pada awal Tahun 2010 wilayah Pemerintahan Kecamatan Bandar dimekarkan menjadi dua wilayah Pemerintahan Kecamatan yaitu Kecamatan Bandar yang membawahi pemerintahan Kampung sebanyak 35 Kampung dan Kecamatan Bener Kelipah yang membawahi pemerintahan Kampung sebanyak 12 Kampung. Kampung Gele Semayang hingga saat ini berada di Wilayah Kemukiman Gajah Mungkur Reje Tiang Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah. Sementara Kampung Suku Wih Ilang juga  menjadi Wilayah Kemukiman Gajah Mungkur Reje Tiang Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah.     Sejarah Pemerintahan Kampung Sistem Pemerintahan Kampung Gele Semayang berasaskan pada pola adat/kebudayaan dan peraturan formal yang sudah bersifat umum sejak zaman dahulu, Pemerintahan Kampung dipimpin oleh seorang Kepala Kampung dan dalam susunan pemerintahan kampung terdapat Kepala Dusun. Imum Mukim memiliki peranan yang cukup kuat dalam tatanan pemerintahan Kampung yaitu sebagai penasihat baik dalam penetapan sebuah kebijakan ditingkat pemerintahan Kampung dan dalam memutuskan sebuah putusan tentang adat. Badan Permusyawaratan Kampung (BPK) menjadi bagian lembaga penasihat kampung juga sangat berperan dan berwenang dalam memberi pertimbangan terhadap pengambilan keputusan-keputusan kampung. Memantau kinerja dan kebijakan yang diambil oleh kepala Kampung baik yang terkait masalah adat istiadat, sosial budaya maupun kegiatan-kegiatan lain dalam pelaksanaan pembangunan kampung. Imum Menasah berperan mengorganisasikan seluruh kegiatan keagamaan. Dari tahun 2007 sampai tahun 2010 roda pemerintahan dilaksanakan di rumah Kepala Kampung dan dilapangan (ditengah-tengah masyarakat) karena belum ada kantor Kepala Kampung. Urutan pemimpin pemerintahan Kampung / Kepala Kampung Gele Semayang  sejak tahun 2003  s/d sekarang adalah sebagai berikut: No       Nama Kepala Kampung                               Periode Pemerintahan 1.         H.M. Hasan                                                  2003 s/d 2007 2.         Naira. HS                                                     2007 s/d 2014 3.        Salman Farsi                                                  2014 s/d sekarang         Sejarah Pembangunan Kampung Sejararah pembangunan sejak pemekaran tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 sangat sedikit sekali, dan mulai adanya pembangunan sejak tahun 2007 sampai dengan tahun 2010, itupun hanya pembangunan dalam  skala yang tidak begitu besar ada yang dari Pemerintah Daerah, PNPM.MP, BKPG dan bantuan-bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat seperti swadaya masyarakat.
Dashboard

Selamat datang!

Sistem Informasi Desa (SID)