Melestarikan Hutan, Penerapan Nilai Adat Gayo Dalam Bahan Ajar Mulok - Pelantikan Tastafi Bener Meriah, Abu Mudi Mesra Harap Tanggung Jawab - Hari Santri Wujud Pengakuan Negara Ke Ulama, Abuya Sarkawi Saya Bangga Jadi Santri! - Sejumlah Pelayan Masyarakat di Bener Meriah Dapat Tiket Umrah Gratis - Pansel Serahkan Berkas 15 Calon Anggota KIP Bener Meriah - TMMD Ke 103, Kodim 0106 Aceh Tengah Bener Meriah Buka Jalan Sepanjang 5.500 Meter - KORPRI Bener Meriah Gelar Porda ASN 2018 - Danrem dan Plt Bupati Bener Meriah Tinjau Lokasi TMMD 103 - Plt Bupati Bener Meriah Wisuda 1140 Santri - Pemuda Pancasila Bandar Serahkan Bantuan Tsunami Palu Donggala - Pemkab Bener Meriah Ikuti Sidang APBK Perubahan Dengan DPRK - Sebanyak 256 Orang Ikuti MTQ Ke-7 Bener Meriah - Sebanyak 11 Juta lebih Pemkab Kumpulkan Dana Korban Untuk Palu - Abuya Syarqawi Akan Buka MTQ Ke-7, Ini Jadwalnya - Peringatan Milad Dayah Terpadu Bustanil Arifin Ke 18 -

Bur Kul; Bersemayamnya Para Mujahid Tanpa Nama, Tanpa Cerita

09-10-2018 13:09:18

Catatan : Tim The Gayo Institute Bener Meriah*

 

Sejarah Belanda datang ke Aceh membawa kesan sendiri bagi para mujahid dataran tinggi Gayo dalam memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan dari penjajah Belanda. Salah satu bukti sejarah perjuangan mujahid ini adalah kawasan hutan lindung Bur Kul, Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten Bener Meriah.

Keberadaan Bur Kul yang dimaksudkan adalah di antara kawasan lereng bukit Lut Kucak, dan Gunung Merapi Burni Telong, Paya Rebol Bener Meriah. Mencapai makam para mujahid ini, membutuhkan waktu sekitar satu jam berjalan kaki dari Paya Rebol, tempat bercocok tanam masyarakat setempat.

Sejarawan Gayo alm. Dr Mahmud Ibrahim MA dalam buku Mujahid Dataran Tinggi Gayo, megnatakan bahwa pada tahun 1903 pasukan “muslimin” gugur dan syahid melawan pasukan tentara Belanda di Bur Kul. Namun, tidak dijelaskan secara rinci bagaimana kronologi tewasnya dan identitas ketujuh mujahid ini.

Penelitian dan penulisan sejarah yang ditulis alm. Dr Mahmud Ibrahim MA membuka jalan pikiran bagi para generasi muda sejarawan Bener Meriah yang mencoba meneliti kembali tragedi 1903 itu. Sehingga dipandang perlu untuk dicatat dalam sejarah. Siapa dan bagaimana kronologi perjuangan para mujahid bertahan dari serangan pasukan Belanda, sebagai langkah awal melengkapi penelitian sejarah pejuang Gayo yang gugur di medan perang khususnya di Bener Meriah.

Bertepatan pada 7 April 2018, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) The Gayo Institute (TGI) Bener Meriah melakukan pendalaman konsep dan rancangan awal penelitian mengenai sejarah “muslimin”. Penelitian ini juga diindikasikan karena adanya keterkaitan peneliti dengan sejarah tujuh suhada dan silsilah keluarga dari para pejuang mujahid Gayo ini, keluarganya masih bisa kita temui dan berdomisili di Kabupaten Bener Meriah. Khususnya di Kampung Tingkem, Gunung dan Jongok Reje Guru. Atas dasar izin dan dukungan dari para ahli waris, penelitian ini dilanjutkan agar lebih mendalam dan serius juga menjadi salah satu upaya menambah fakta sejarah Gayo yang cukup signifikan dalam peperangan membela Islam di Aceh khususnya wilayah Gayo.

Sekilas Terjadinya Pertempuran
Setelah dilakukan konsep yang matang oleh The Gayo Institute dan selanjutnya melakukan penelitian secara terstruktur ke berbagai sumber lini, tim berhasil mengumpulkan nama-nama mujahid “muslimin” Gayo ini satu persatu. Sejarah terjadinya peperangan para syahid melawan Belanda pun mulai menemukan titik temu. Meskipun informasi yang didapatkan tidak konkrit sepenuhnya, namun dapat dikatakan akurat berdasarkan kriteria sumber dan beberapa fakta yang dihimpun oleh tim peneliti TGI Bener Meriah.

Fakta menarik tentang keberadaan makam tujuh syuhada di Bur Kul adalah niat juang yang tinggi dari pasukan muslimin terhadap ekspansi atau teror yang dilakukan oleh pihak Belanda. Agresi Belanda terus menerus memunculkan disintegrasi sosial, ekonomi dan nilai agama kepada kalangan pribumi.

Tersebarnya kabar bahwa pasukan Belanda tengah melakukan patroli dari beberapa arah, pasukan muslimin pun berinisiatif melakukan pembinaan agama, menempa kekuatan fisik para pemuda yang akan menjadi bagian dari pasukan muslimin untuk menghadang dan mengantisipasi pasukan Belanda nantinya. Para pejuang muslimin ini merekrut generasi muda untuk berlatih di Bur Kul agar siap dan sigap memerangi pasukan Belanda.

Dari beberapa literasi yang didapatkan terjadi dua ekspansi penyergapan pasukan Belanda terhadap mujahid Gayo khususnya. Pertama masa pasukan Van Daleen (pemimpin ekspansi dari utara ke selatan Aceh) dan ekspansi kedua oleh pasukan Van Collijn (pemimpin ekspansi dari timur ke barat Aceh).

Pasukan Van Collijn yang berpatroli di wilayah timur Aceh Tengah inilah yang melakukan pembantaian terhadap ketujuh suhada dan juga puluhan nyawa lainnya yang belum diketahui siapa saja mereka. Pasukan ini diperkirakan mendapati jejak pemukiman di sekitar Bur Kul saat melakukan patroli.

Ketujuh tokoh pasukan muslimin ini dikabarkan syahid ditembaki oleh para tentara Belanda saat sedang melangsungkan shalat. Namun, dalam buku Mujahid Gayo hanya disebutkan bahwa di Bur Kul terjadi pertempuran antara pejuang muslim dengan tentara Belanda, mengakibatkan tujuh orang pejuang gugur dan dimakamkan di sana.

Mujahid-mujahid ini adalah Pang Bin (Tengku Quransyah), Tengku Empun Badil (Jemadil), Tengku Karang Ampar (Zainuddin), Tengku Empun Negri, Tengku Lebe Rahi (Abdul Rahhi) dan Syeh Abu Kasim, Syeh Abu Kasim (tokoh dari Samalanga yang hijrah setelah benteng Batee llie direbut Belanda) serta M.Saleh. Hanya saja informasi tentang tokoh M.Saleh belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya, dan masih dalam tahap penelitian serta peninjauan narasumber sebagai tolak ukur akuratnya informasi dalam melengkapi data penelitian.

Tepat pada Minggu, 30 September 2018 yang lalu, tim penelitian bersama beberapa ahli waris melakukan ekspedisi dan survei ke lokasi Bur Kul di mana keberadaan para Mujahid Gayo itu di semayamkan. Namun kekecewaan muncul dari para ahli waris saat mendapati kondisi makam tidak lagi seperti apa yang pernah mereka lihat dan ingat sebelumnya.

Kondisi makam didapati telah terpisah menjadi tiga bagian. Salah satu ahli waris dari garis keturunan Tengku Karang Ampar (M.Ali) menuturkan bahwa kuburan itu tidak seperti di dapatinya tahun 1988 lalu saat beliau dan beberapa keluarga berziarah. Seharusnya makam tersebut memiliki tujuh penanda batu nisan dalam satu liang, dengan ukuran layaknya kuburan massal untuk ketujuh jasad mujahid ini.

                             Kondisi makam saat pertama di dapati (Tim TGI BM)

Setelah bermusyawarah dan berdiskusi dengan berbagai dasar dan pertimbangan tentang bagaimana seharusnya kondisi makam, akhirnya tim ekspedisi yang juga sebagai tim peneliti bersama para ahli waris dan beberapa warga yang ikut serta, melakukan perbaikan ulang terhadap makam tersebut.

                                                     Proses perbaikan maka

Dari pendalaman dan penggalian informasi lebih lanjut tentang kondisi makam, Amruna (warga Paya Rebol) yang ikut sebagai penunjuk jalan, mengatakan bahwa pada tahun 2006 lalu, ada pihak yang tidak bertanggung jawab yang melakukan penggalian. Belum diketahui pasti atas dasar apa mereka membongkar dan menggali makam tersebut sehingga merusak konstruk makam. Namun, beredar kabar bahwa penggalian makam ini dilakukan dengan tujuan mencari harta karun di sekitaran makam.

Harapan
Setelah dilakukan penelitian, tentunya ada tujuan yang dapat memotivasi penelitian ini harus berlanjut. Khususnya tentang sejarah para mujahid atau pasukan “muslimin” yang berjuang jauh sebelum kemerdekaan Indonesia namun, gerakan perjuangan mereka adalah perjuangan cikal-bakal Indonesia merdeka di tahun 1945. Atas dasar ini, tim The Gayo Institute Kabupaten Bener Meriah berharap agar makam ini menjadi prasasti makam sejarah layaknya makam Muyang Kute di Belang Jorong, makam Datu Beru di Buntul Kubu Tunyang serta makam pahlawan dalam catatan sejarah sebagai pejuang yang telah menegakkan Islam dan berjuang untuk kemerdekaan dari penjajah Belanda.

Merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Pasal 1. Disebutkan bahwa Negara telah mengatur dan memberikan fasilitas untuk pemerintah yang berwenang di setiap wilayah untuk pengelolaan, pelestarian, perlindungan, penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan, pemugaran, pengembangan, penelitian, revitalisasi, adaptasi, pemanfaatan, dan perbanyakan terhadap cagar budaya yang memiliki nilai tinggi akan historisnya.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya pemerintah daerah Kabupaten Bener Meriah khususnya, dapat mengambil langkah nyata untuk penyelamatan, zonasi dan pemeliharaan terhadap makam tujuh suhada ini. Serta menjadi upaya pemerintah untuk merealisasikan UU Cagar Budaya tersebut, guna melindungi nilai historis yang dimiliki makam tujuh suhada dan makam-makam pejuang lainnya.[]

*The Gayo Institute atau TGI Bener Meriah merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang ada di Bener Meriah, berfokus pada penelitian, kebudayaan, peninggalan sejarah dan juga pendidikan. Sebagai ide kreatif dan penulis Altana (anggota TGI Bener Meriah, Anggota FLP Takengon), Junaidi (Sekretaris TGI Bener Meriah) dan Marhamah (Ketua TGI Bener Meriah, Anggota LSM Jangko Perempuan dan Gender). [http://lintasgayo.co/2018/10/08/bur-kul-bersemayamnya-para-mujahid-tanpa-nama-tanpa-cerita]